Minggu, 13 Februari 2011

KONFLIK PRIBADI TOKOH UTAMA DALAM CERPEN KOTA KELAMIN KARYA MARIANA AMIRUDDIN

Kajian Sosiologi Sastra

Disusun oleh :

Rindit setiawan

08003124

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

2010

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1
  2. Rumusan masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
  3. Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
  4. Kajian teori . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

PEMBAHASAN

  1. Sastra sebagai cermin masyarakat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
  2. Masalah-masalah yang ada dalam cepen “Kota Kelamin” . . . . . . . . 7
  3. Pengaruh karya sastra terhadap kehidupan remaja . . . . . . . . . . . . . . 8

KESIMPULAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kritik sastra adalah sebuah struktur yang kompleks. Oleh karena itu, untuk dapat memahami haruslah karya sastra dianalisis (Hill, 1996: 6). Kritik sastra merupakan salah satu studi sastra. Kritik sastra merupakan studi sastra yang langsung berhadapan dengan karya sastra, secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada penilaiannya. Kritik sastra merupakan studi sastra yang secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada penilaiannya (Weellek, 1978: 35 dalam Pradopo, 2009: 92).

Menurut Rachmat Djoko Pradopo, untuk mengenal permasalahan kritik sastra, perlu dikemukakan manfaat kritik sastra yang dapat digolonglan menjadi tiga, yaitu, pertama untuk perkembangan ilmu sastra sendiri, kedua, untuk perkembangan kesustraan, dan ketiga untuk penerangan masyarakat pada umumnya yang menginginkan penerangan pada karya sastra pada umumnya.

Salah satu metode kritik sastra yang dapat digunakan adalah metode sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemsyarakatan. Sehingga, tujuan dari analisis sosiologi sastra adalah untuk mendapatkan gambaran yang lengkap, utuh, dan menyeluruh tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakat.

Pendekatan kritis menawarkan satu teori sastra yang membongkar wacana kritik itu sendiri. Menurutnya, kritik sastra adalah konstruksi dari bagian dalam pembentukan subyek dan realitas sehingga terlibat pada kepentingan tertentu, baik politik dan ekonomi. Kritik sastra, teori sastra dan sejarah sastra harus mengenali dan mengakui subyektivitasnya sendiri. Obyektivitas dalam bentuk apapun tidak akan tercapai dalam inter-relasi kehadiran karya itu sendiri.

Ilmu sastra yang meliputi teori, kritik, sejarah dan sastra bandingan sesungguhnya harus melepaskan dirinya dari strukturisasi dan konstruksi. Ilmu sastra harus mengambil posisi bersifat murni dan kritis terhadap kekuatan hegemonik yang dihadapi. Keadaan ini seharusnya diperhatikan untuk peneliti, pembelajar dan pengajar atau profesor sastra dan linguistik/bahasa untuk direnungkan kembali kekuatan hegemonik apa yang berada dan bersembunyi di balik ilmu yang mereka agung-agungkan dan mereka pelajari serta ajarkan. Jika tidak, betapa mereka yang telah menjadi budak yang bodoh dan tukang yang tak bernama, selayaknya kita merenungkan satu pernyataan dari Spivak berikut ini: ”Tanpa menghadapkan pandangan kita ke Barat, kita tidak mungkin menjadi seorang intelektual”. Wahai para pakar sastra, apakah demikian adanya?

Dari semua uraian tersebut sebenarnya banyak sekali masalah-masalah nyang dapat dikritik sehingga dapat berguna bagi para penikmat sastra yaitu para pembaca itu sendiri. Kehidupan masyarakat sangat beragam. Banyak di lingkungan sekitar kita orang-orang yang melakukan kebiasaan yangtidak baik. Kebiasaan yang melanggar norma dan nilai-ilai yang ada dalam masyarakat. Semua itu dilarang oleh agama. Seperti halnya dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin, banyak masalah yang melanngar norma dan nilai agama. Dalam cerpen tersebut tokoh utama yaitu “Aku” yang tak lain adalah pengarang sendiri sering melakukan perbuatan perzinaan dengan pacarnya sendiri. Mereka melakukan perbuatan tersebut dengan rasa senang dan berulang terus. Perbuatan yang jelas-jelas dilarang tersebut mereka lakukan setiap mereka bertemu.dalam menganalisis masalah-masalah tersebut penulis menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang lebih menekankan pada sastra sebagai cermin masyarakat dan fungsi sosial sastra.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas maka muncul permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi sosial masyarakat dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin, dengan realita sosial yang ada dimasyarakat?

2. Masalah-masalah apa saja yang ada dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin?

3. Seberapa jauh karya sastra dapat mempengaruhi kehidupan remaja sekarang ini ?

C. Tujuan

Tujuan dilakukannya penelitian kritik sosiologi pada cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amiruddin adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejauh mana sastra dapat mencerminkan masyarakat waktu karya sastra tersebut tercipta.

2. Untuk mengetahui cerita dan fakta dalam cerpen Kota Kelamin karya Mariana Amiruddin.

3. Untuk mengetahui pengaruh karya sastra terhadap remaja.

D. Kajian Teori

Kritik sastra adalah bidang kesusastraan yang terus menerus berkembang di dunia. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi, perkembangan kritik sastra dunia tentu mempengaruhi perkembangan studi kritik sastra Indonesia. Pengaruh ini dapat timbul dari kerja-kerja kritik yang dilakukan oleh kritikus-kritikus sastra Indonesia, baik dari golongan akademisi, sastrawan, maupun peminat sastra terhadap karya sastra Indonesia yang selanjutnya mendapatkan tanggapan dari masyarakat sastra dunia, kerja kritik pada karya-karya berbahasa asing, atas.

Sebaliknya, kerja kritik pada karya-karya Indonesia oleh kritikus-kritikus asing, maupun transfer pengetahuan dalam bentuk studi banding dan penterjemahan teks atau buku-buku teori kritik sastra. Artikel ini dimulai dengan pembahasan mengenai studi kritik sastra yang sejak dulu dipahami sebagai sebuah bentuk kerja interpretasi (menjelaskan maksud) untuk karya imajinatif (atau karya sastra) ternyata sudah mulai bergeser fungsinya dengan tuntutan menjadikan kritik sastra sebagai sebuah bentuk karya sastra sekelas dengan seni yang lain. sastra juga dimaksudkan untuk menjelaskan pada masyarakat bahwa karya sastra adalah hasil interpretasi pengarang terhadap suatu fenomena sehingga terkadang berbeda dan “mengacuhkan” kenyataan yang diakui masyarakat, untuk hal ini karya sastra perlu dilindungi karena karya tersebut perlu dipandang terlepas dari pengarangnya sebagai konstruksi yang otonom/berdiri sendiri.

Dengan berpegang pada keunggulan, niscaya pada akhirnya kita juga harus meletakkan karya sastra pada kelas yang sama dengan kritik karena kritik yang tidak baik dan tidak memiliki keunggulan, pasti berasal dari tidak adanya keunggulan kesusastraan dari karya itu sendiri (no literal primacy in discourse at all). Yang pertama, ketika karya sastra ternyata hanya sekadar meniru tanpa memberikan refleksi lain, kritik sastra dapat dipandang sebagai karya utama karena kritik mampu menulis ulang (layaknya karya sastra) sebuah objek dalam terminologi atau pengertiannya sendiri (criticism is now have always been rewriting the object in the critic’s own terms).Walaupun dalam hal tata bahasa dan pilihan kata dapat dikatakan terlalu rumit, secara keseluruhan, tulisan Murray Krieger “Criticism as a Secondary Art” ini dapat dikatakan cukup baik dan membantu kita, pembacanya, mengerti bagaimana bentuk kritik sastra yang baik, kedudukan kritik sastra yang terus berkembang, dan sedikit kilasan perkembangan kritik sastra Amerika.

Untuk melakukan kritik terhadap cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin, penulis menggunakan pendekatan Sosiologi sastra karena untuk mengetahui lebih jelas kehidupan pengarang dan cerminan dalam masyarakat. Sosiologi berasal dari bahasa Yunani soio atau socious yang berarti ‘masyarakat’ dan kata logi atau logos yang berarti ‘ilmu’. Jadi sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional dan empiris (Ratna.2003:1).

Sastra juga diambil dari bahasa Yunani, dari kata sas (sansekerta) berarti ‘mengarahkan,mengajar, memberi petunjuk dan intruksi’. Dan akhiran tra berarti ‘alat atau sarana’. Jadi sastra berarti ‘kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik’. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian yaitu kesusastraan, yang berarti ‘kumpulan hasil karya yang baik’ (Ratna.2003:1).

Karya sastra biasanya berisi lukisan yang jelas tentang suatu tempat dalam suatu masa dengan berbagai tindakan manusia. Manusia dengan berbagai tindakannya di dalam masyarakat merupakan objek kajian sosiologi. Seperti yang dikatakan Marx dalam Faruk (1999:6), struktur sosial sustu masyarakat, juga struktur lembaga-lembaganya, moralitasnya, agamanya, dan kesusastraannya, terutama sekali ditentukan oleh kondisi-kondisi kehidupan, khususnya kondisi-kondisi produktif kehidupan masyarakat itu.

Pembahasan hubungan antara sastra dengan masyarakat biasanya bertolak dari frase De Bonald bahwa “sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat” (litelature is an expression of society) (Wellek.1995:110). Hal ini dimaksudkan bahwa sastra mencerminkan dan mengekspresikan hidup. Pengarang tidak bisa tidak mengekspresikan pengalaman dan pandangannya tentang hidup, karena setiap pengarang adalah warga masyarakat sebagai makhluk sosial.

Ratna (2003:2), mengatakan bahwa sesungguhnya ilmu sosiologi dan sastra memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda, bahkan bertentangan secara diametral. Sosiologi adalah ilmu objektf kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sein), bukan apa yang seharusnya terjadi ( das sollen). Sebaliknya, karya sastra jelas bersifat evaluatif, subjektif, dan imajintif. Dan perbedaan antara sastra dan sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan ciri-ciri, sebagaimana ditunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan, fiksi dan fakta.

PEMBAHASAN

1. Sastra sebagai cermin masyarakat

Dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin diceritakan bahwa tokoh perempuan “aku” sekaligus sebagai tokoh utama mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seks bebas dengan pacarnya. Mereka melakukannya dengan rasa senang tanpa mempunyai rasa takut maupun rasa bersalah, yang ada hanyalah nafsu semata. Kutipan:

“Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur”,(hal 1).

Dalam kutipan tersebut, perbuatan yang dilakukan oleh tokoh aku dilarang jelas oleh agama dan norma, serta nilai-nilai yang ada dalam masyaraakat. Mereka melakukan perbuatan zina, dan zina adalah perbuatan yang dosa. Namun mereka sering meakukan perbuatan tersebut yang seharusnya perbuatan itu hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri. Dalam hukum agama perbuatan zina akan mendapatkan hukuman rajam yaitu dicambuk sebanyak 100X. Maka perbuatan tersebut sangat dilarang. Perbuatan selayaknya suami istri itu pun seharusnya tidak boleh dengan penuh nafsu belaka namun harus dengan rasa suka dan ingin mendapatkan keturunan. Keturunan yang baik untuk semuanya, dan keturunan yang memang dikehendaki oleh seorang suami istri.

Tokoh “aku” dalam cerpen “Kota Kelamin” menganggap bahwa alat kelamin tidak boleh hanya untuk membuang air seni saja. Kelamin juga perlu bahagia yaitu dengan melakukan hubungan seks. Mereka tahu bahwa alat kelamin tidak boleh terlihat oleh siapapun yang bukan suami atau istrinya, tpi mereka malah melakukan hubungan yang seharusnya tidak mereka lakukan yaitu hubungan selayaknya suami istri. Kutipan:

“Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak”.

“Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari”.

“Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia”.

Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa mereka melakukan perbuatan sek dengan rasa suka dan mereka mengetahui apa resiko yang akan mereka dapatkan serta mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan dosa. Tetapi mereka tetap melakukannya.mereka menghiraukan kalau perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa, dan menghiraukan telah melanggar nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.

Perbuatan itu mereka lakukan setiap malam hari setiap mereka bertemu. Mereka belum menemukan suatu kejenuhan dalam menjalaninya. Namun suatu ketika tokoh “aku” melihat vaginanya mulai memucat, tokoh “aku” merasa bahwa vaginanya sedih, dan dia bingung bagaimana lagi cara membahagiakannya.mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. tidak ada rasa yang seperti dulu lagi saat awal-awal mereka berpacaran dan awal-awal melakukan perbuatan itu. Kutipan:

“Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi”.

Dalam akhir cerita tokoh “aku” sadar bahwa perbuatan tersebut dilarang oleh agama dan melanggar nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Sadar setelah merasakan akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.

2. Masalah-masalah yang ada dalam cepen “Kota Kelamin”

a. Masalah pribadi tokoh utama.

Tokoh utama dalam cerpen yang berjudul “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin mempunyai kebiasaan melakukan hubungan selayaknya suami istri, namun yang sebenarnya tidak boleh karena mereka belum menikah. Perbuatan itu dilakukan dengan rasa senang dan penuh nafsu. Namun suatu ketika mereka tidak melakukan perbuatan tersebut karena kesibukan dengan pekerjaan. Jadi mereka jarang bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama. Kebiasaan itu membuat tokoh”aku” merasa jenuh dan tidak mempunyai gairah lagi. Ketika mereka ingin melakukan perbuatan itu lagi. Dia bingung dengan semua ini dan bertanya-tanya mengapa ini semua bisa terjadi pada mereka.

Dalam melakukan hubungan seks seharusnya sudah ada suatu ikatan yaitu ikatan pernikahan terlebih dahulu. Namin mereka melanggarnya, malah mendahuluinya sebelum mereka menikah.

b. Masalah dengan Tuhan

Dalam melakukan hubungan seks harus didasarkan rasa senang dan ingin mendapatkan keturunan yang baik dan dapat menjadi anak yang shaleh, namun mereka melakukannya dengan rasa nafsu sesaat belaka, dan itu dilarang oleh agama. Pernikahan adalah salah satu cara agar dapat melakukan hubungan seks, karena jika seseorang belum menikah tidak boleh melakukan perbuatan tersebut.

Tokoh utama “aku” merasa sangat bersalah dan menyesal dengan perbuatan yang telah dilakukannya dan sadar behwa perbuatan tersebut selah dan dilarang oleh agama. Kutipan:

.........

“Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin”.

..........

“Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu”.

............

3. Pengaruh karya sastra terhadap kehidupan remaja

Dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin diceritakan bahwa tokoh perempuan “aku” sekaligus sebagai tokoh utama mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seks bebas dengan pacarnya. Mereka melakukannya dengan rasa senang tanpa mempunyai rasa takut maupun rasa bersalah, yang ada hanyalah nafsu semata.

Hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ikatan pernikahan saja. Agar pera generasi pemuda tidak melakukan perbuatan tersebut, harus ada hukuman yang tegas dan jelas agar mereka tidak melakukannya. Selain itu setiap anak harus dididik dengan baik dengan memberikan bekal yang banyak tentang ilmu agama agar mereka mengetahui bahwa itu dilarang dan melanggar norma- dan nilai-nilai yang ada. Penyuluhan kepada generasi penerus bangsa jugaperlu dilakukan yaitu dengan menjelaskan bahaya-bahaya apa yang akan terjadi jika melakukan hubungan seks bebas.

Cerpen yang berjudul Kota Kelamin karya Mariana Amiruddin memberikan pendidikan yang baik bagi para pembaca karena dapat mengetahui salah satu bahaya apa yang akan terjadi akibat seks bebas. Penyesalan tokoh utama memberikan pengetahuan bahwa perbuatan itu sangat tidak mengenakkan dan yang ada hanya penyesalan diakhir saja. Tidak ada penyesalan yang ada di awal.

KESIMPULAN

  1. Sastra sebagai cermin masyarakat

Karya sastra merupakan hasil karya manusia baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai pengantar dan mempunyai nilai estetik yang dominan. Dalam penulisan karya sartra biasanya adalah sesuatu hal atau peristiwa yang ada kemudian ditulis dalam bentuk karya sastra. Peristiwa yang ada dalam cerpen Kota Kelamin mengambarkan keadaan masyarakat saat peristiwa itu terjadi. Setelah iotu ditulis dalam cerpen yang berjudul kota kelamin.

  1. Masalah-masalah yang ada dalam cerpen Kota Kelamin

Masalah-masalah yang ada dalam cerpen Kota Kelamin berupa permasalahan pribadi tokoh utama “aku” dan permasalahan tokoh utama”aku” dengan Tuhan.

  1. Pengaruh karya sastra terhadap kehidupan remaja

Dalam cerpen “Kota Kelamin” karya Mariana Amirudin diceritakan bahwa tokoh perempuan “aku” sekaligus sebagai tokoh utama mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seks bebas dengan pacarnya. Mereka melakukannya dengan rasa senang tanpa mempunyai rasa takut maupun rasa bersalah, yang ada hanyalah nafsu semata. Cerpen yang berjudul Kota Kelamin karya Mariana Amiruddin memberikan pendidikan yang baik bagi para pembaca karena dapat mengetahui salah satu bahaya apa yang akan terjadi akibat seks bebas. Penyesalan tokoh utama memberikan pengetahuan bahwa perbuatan itu sangat tidak mengenakkan dan yang ada hanya penyesalan diakhir saja.

DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rahmad Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rahmad Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra..Jakarta Pusat: PT Dunia Pustaka Jaya.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra.Yogyakarta: Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar