Minggu, 13 Februari 2011

ANALISIS PEMAJASAN DALAM NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL” KARYA NAWAL EL- SAADAWI

Disusun oleh :

Rindit setiawan 08003124


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

2010

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fungsi bahasa sangatlah luas, dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa berfungsi sebagai lambang bunyi yang dipergunakan oleh sesuatu masyarakat untuk berinteraksi. Karya sastra adalah hasil karya manusia baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai estetika yang dominan. Bahasa dan sastra memiliki hubungan erat. Melalui karya sastra pengarang berusaha menuangkan segala imajinasi yang ada melalui kata-kata. Sastra tidak dapat lepas dari bahasa.

Novel merupakan salah satu untuk mengungkapkan sesuatu cara bebas, melibatkan permasalahan secara bebas, melibatkan permasalahan secara kompleks sehimgga menjadi sebuah dunia yang penuh. Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah novel memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam perjalanan waktu.

Sastra lahir karena dorongan keinginan dasar manusia untuk mengungkapkan diri, apa yang telah dijalani dalam kehidupan dengan pengungkapan lewat bahasa. Unsur-unsur pembangun karya sastra dapat dikelompokan menjadi dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrisik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur intrinsik meliputi tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra dari luar karya sastra yang meliputi psikologi, biografi , sosial, historis, ekonomi, ilmu, serta agama.

Pengarang mempunyai kebebasan dalam mengunakan bahasa sehingga akan menghasilkan karya sastra yang menarik dan indah untuk dinikmati. Penyiasatan penggunaan bahasa di dalam karya sastra disebut gaya bahasa. Adanya bahasa kiasan ini akan menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian , menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 1987 : 62).

Salah satu untuk mendapatkan efek estetik dalam penggunaan gaya bahasa yaitu denga cara unsur retorika. Retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2006 : 1). Pengunaan retorika berkaitan dengan semua penggunaan unsur bahasa kiasan dan pemanfaatan bentuk citraan.

Unsur stilistika terdiri dari unsur leksikal, unsur gramatikal dan unsur retorika. Unsur leksikal meliputi kata benda,kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Bertujuan untuk mengetahui ketepatan pilihan kata yang dipilih oleh pengarang untuk tujuan estetik dan untuk mengungkapkan gagasan. Unsur gramatikal meliputi pembalikan kata, pemendekan dan pengulangan kata. Bertujuan untuk mengetahui hubungan kosa kata yang dipergunakan dalam penyusunan kalimat sehinngga jelas maksudnya. Unsur retorika yaitu suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasaan struktur, pencitraan dan kohesi.

Dalam hubungannya dengan stilistika, penulis mengambil novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi sebagai bahan analisis karena novel karya Nawal el- Saadawi yang berjudul “Perempuan di Titik Nol“ ini merupakan novel yang menjunjung tinggi perjuangan seorang perempuan Mesir untuk merebut kedudukan dan hak yang sama, dan lebih penting lagi untuk mendapatkan perubahan nilai dan sikap kaum Mesir terhadap perempuan, mesih belum sepenuhnya tercapai. Tujuan analisis ini untuk mengetahui kreatifitas yang digunakan pengarang. Penulis di dalam analisis ini lebih menitikberatkan pemajasan yang digunakan dan dituangkan oleh pengarang dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

B. Identifikasi Masalah

Pengkajian dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi ini terdapat pokok-pokok permasalahan antara lain:

  1. Gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.
  2. Makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

C. Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas dibatasi masalahnya yaitu GAYA bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

D. Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah di atas dapat dirumuskan yaitu apa saja gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el-Saadawi?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

II. LANDASAN TEORI

Stilistika adalah ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa. Dalam kamus linguistik, stilistika adalah ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunaka dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan (Kridalaksana, 2001: 202).

Gaya bahasa menurut Slamet Muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Dalam karya sastra efek ini adalah efek estetik yang akan membuat karya sastra akan memiliki nilai seni. Nilai karya sastra bukan semata-mata disebabkan oleh gaya bahasa, bias juga karena gaya cerita atau penyusunan alurnya. Namun demikian gaya bahasa gaya bahasa sangat besar sumbangannya kepada pencapaian nilai seni karya sastra.

Suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis adalah unsur retorika. Macam-macam unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasan, struktur, pencintaan dan kohesi. Namun dalam makalah ini penulis hanya menganalisis pemajasan saja. Jenis bahasa kiasan dalam bahasa Indonesia ada bermacam-macam menurut Keraf (2006: 115-145). Namun hanya beberapa jenis majas yang sering dipergunakan pengarang dalam karya sastra. Diantaranya majas :

1. Simile adalah majas perbandingan yang langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain kata perbandingan seperti, bagaikan, laksana dan lain-lain (Keraf : 138).

2. Metafora adalah majas perbandingan langsung yang tidak mempergunakan kata pembanding (Keraf, 2006 : 138).

3. Personifikasi adalah majas yang menggambarkan atau memperlakukan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia (Keraf, 2006 : 140)

4. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, baik hubungan isi untuk menyatakan kulitnya dan lain-lain (Keraf, 2006 : 142)

5. Paradok adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada (Keraf, 2006 : 136)

6. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 2006 : 135)

7. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2006 : 132)

8. Sinekdok adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu untuk menyatakan keseluruhan (pars pro totot) keseluruhan untuk sebagian atau biasa diistilahkan totem proparte (Keraf, 2006 : 143)

SINOPSIS

Novel Perempuan di Titik Nol adalah hasil observasi terhadap Firdaus, tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah seorang perempuan yang akan mendapat hukuman mati. Firdaus dalam perjalanan hidupnya mengalami belbagai pengalaman dan konflik dengan lingkungannya. Firdaus sudah mengalami penganiayaan baik dari segi fisik maupun mental oleh seorang lelaki yang dikenalnya sebagai ayah. Sesungguhnya, tak cuma Firdaus yang mendapat perlakuan buruk dari sosok lelaki itu. Ibunya pun tak pernah bernasib lebih baik darinya.

Ketika ayah dan ibunya meninggal, Firdaus kemudian diasuh oleh pamannya. Meski bersikap lebih lembut daripada ayahnya, toh sang paman tak melewatkan kesempatan untuk melakukan perudungan seksual terhadapnya. Dalam masa ini, Firdaus dikirim pamannya ke sekolah menengah. Di sini, ia hampir mengenal cinta tapi tidak dari lawan jenis, melainkan dari seorang guru perempuan. Lulus dari sekolah menengah dengan nilai terbaik, Firdaus malah dinikahkan oleh seorang pria tua yang kaya raya, tetapi sangat pelit, oleh paman dan bibinya. Apa boleh buat, Firdaus harus melayani lelaki yang wajahnya penuh bisul itu walau dengan setengah hati. Namun, lama-kelamaan, Firdaus pun tak tahan dan kemudian melarikan diri.

Berikutnya, ia bertemu Bayoumi, seorang lelaki yang awalnya tampak baik. Belakangan, Bayoumi inilah yang membawa Firdaus pada sebuah profesi yang disebut pelacur. Karena kembali dijajah lelaki, Firdaus pun melarikan diri lagi. Kali ini, ia bertemu seorang perempuan cantik yang ternyata tak lebih dari seorang germo. Namun, berkat perempuan ini, Firdaus mengetahui ia memiliki harga tinggi.

Jalan hidup membawa Firdaus menjadi seorang pelacur mandiri berharga. Ia bisa membeli apa pun juga yang ia inginkan. Ia bisa berdandan secantik mungkin. Dan, yang paling penting, ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Toh, nasib baik belum juga bersahabat dengannya. Firdaus yang sempat beralih profesi sebagai pegawai kantor dan kemudian kembali ke dunia pelacuran karena patah hati harus berhadapan dengan kesombongan lelaki. Seorang germo memaksa Firdaus bekerja untuknya. Ternyata, pengalaman hidupnya yang pahit telah mengubah Firdaus menjadi perempuan yang tak lagi mau diinjak-injak kaum pria. Ia memilih untuk membunuh sang germo dan menyerahkan diri ke penjara.

III. PEMBAHASAN

Pemajasan merupakan suatu teknik penungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah, tetapi menuju pada makna tersirat. Tujuan digunakan majas atau bahasa kiasan dalam satu karya sastra dimaksudkan untuk memperoleh efek keindahan, kepuitisan dan tujuan-tujuan lainnya sesuai dengan pengertian masing-masing majas tersebut. Adapun majas atau gaya bahasa yang digunakan oleh Nawal el- Saadawi dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ antara lain:

1. Metafora

Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung (Keraf : 139). Berikut contohnya:

Apa sebabnya kau naik pitam?” tanya saya.” Kau pikir Firdaus tidak bersalah, bahwa dia tidak membunuh orang itu?” (hal: 5)

Makna naik pitam adalah marah.

Sentuhan yang sama, kemantapan dan rasa dingin telanjang yang sama pula. (hal:11)

Dingin telanjang mengandung arti suasana yang sangat dingin.

Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi dibumi yang merampas rakyat mereka yang bermulut besar berkesanggupan untuk membujuk memilih kata-kata manis dan menembakkan panah beracun. (hal:39)

Makna dari kata bermulut besar adalah banyak omong, pandai merayu.

Dengan marah dia menjawab pedas, “apa yang dapat diperbuat, minta bantuan pada langit?”. (hal:71)

Menjawab pedas mengandung arti jawaban yang menyakitkan.

Siapa saja diantara mereka itu tak ada bedanya mereka itu sama saja, semua anak anjing berkeliaran dimana-mana dengan nama macam-macam, Mahmaud, Hasanain, Fauzi, Ibrahim, Awadain, Bayoumi. (hal:75)

Semua anak anjing mengandung maksud orang yang mempunyai kelakuan seperti anjing.

2. Litotes

Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2006 : 132). Berikut contohnya:

Dibandingkan dengan dia, saya hanyalah seekor serangga kecil yang sedang merangkak di tanah diantara jutaan serangga lain. (hal:6)

Seekor serangga kecil maksudnya merendah dan tidak sebanding statusnya.

Gubuk kami dingin hawanya. (hal:24)

Gubuk kami mengandung arti rumah persinggahan.

Setelah selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan bergetar dengan suara dengur yang keras. (hal:27)

Gubuk kami mengandung arti rumah persinggahan.

3. Simile

Simile merupakan perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya ialah bahwa ia lansung mengatakan sesuatu sama dengan hal lain (Keraf: 138). Dalam hal ini bahasa yang membandingkan mengunakan kata-kata perbandingan, terlihat dalam ketipan berikut:

Saya berdiri terpaku seperti berubah menjadi batu. (hal: 7)

Maksud dari berubah menjadi batu adlah diam tanpa ada gerakan.

Mata yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh kedalam, mata itu menatap tanpa bergerak, tetap. (hal:11)

Maksudnya adalah tatapan yang sangat tajam.

Suaranya mantap, menyayat kedalam, dingin bagaikan pisau, tak ada getaran sedikitpun dalam nadanya. (hal:11)

Maksudnya adalah perkataanya sopan tapi tercapai maksud dan tujuannya.

Atau mungkin pula suara itu mengalun dari segala jurusan seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba ketelinga kita. (hal:12)

Maksudnya adalah suaranya terdengar dengan cepat kesegala arah.

Tetapi saya tetap jatuh, terpukul oleh kekuatan yang saling bertentangan, yang tetap mendorong saya ke jurusan yang berbeda-beda, bagaikan sebuah benda yang tenggelam di lautan tanpa batas, (hal: 24)

Maksudnya adalah suasana hati atau perasaan yang terluka begitu dalam.

Saya hanya cukup melihat ke dalamnya, maka yang putih menjadi lebih putih dan yang hitam semakin hitam, seolah-olah cahaya matahari menembus ke dalamnya dari arah sesuatu sumber kekuatan ghaib bukan yang ada di dunia, bukan pula yang di langit, karena tangah berwarna hitam kelam, dan menjadi gelap bagaikan malam, tanpa matahari dan tanpa bulan. (hal: 24)

Matanya tetap pudar, tak mempan akan cahayanya, bagaikan dua lampu yang telah padam. (hal: 25)

Maksunya adalah orang yang sudah tidak mempunyai semangat hidup atau sudah putus asa.

Mulutnya seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang lebar pula. (Hal:26)

Kata-kata itu bagi saya seperti lambang-lambang penuh rahasia yang membuat diri saya diliputi perasaan agak ketakutan. (hal:30)

Berulang kali kedua matanya berkaca-kaca dan sejenak kemudian redup kembali, bagaikan lidah api yang menjdai padam ditengah kegelapan malam. (hal:42)

Jangan lupa hidung yang dimilkinya. Besar dan jelek bagaikan cangkir timah. (hal:53)

Disini saya bagaikan sebutir batu yang dilemparkan orang kedalam air. (hal:59)

Saya dapat merasakan bisul yang bengkak itu dimuka dan bibir saya seperti sebuah dompet kecil atau seperti kantong tempat air, penuh dengan cairan berminyak. (hal:61)

Dia melompat kearah saya bagai seekor anjing gila. (hal:64)

Biji matanya hitam ditengah-tengah matanya sekan-akan merubah menjadi hijau, suatu warna hiajau kegelapan yang menyinarkan kekuatan bagaikan pohon-pohon ditepi sungai Nil. (hal:74)

Saya merasakan tubuh saya kini seperti bayi yang baru lahir, lembut dan halus seperti segala-galanya didalam flat itu. (hal:77)

Ketika saya membuka mata dan melihat dalam cermin saya menyadari bahwa saya telah lahir kembali dengan tubuh baru, indah dan lembut seperti kelopak bunga mawar. (hal:77)

Pada waktu malam sinar bulan menyinari saya bagaikan sutra dan putih seperti jemari lelaki yang berbaring disebelah saya. (hal:80)

4. Hiperbola

Adalah gaya bahasa yang mangandung ungkapan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf: 135). Contohnya sebagai berikut:

Sebuah perasaan yang lebih berat dan beratnya seluruh bumi, seolah-olah yang bukan berdiri malah berbaring entah dibawahnya. (hal:8)

Saya merasa ditolak, bukan saja oleh dia, bukan saja oleh satu orang diantara sekian juta yang menghuni dunia yang padat ini, tetapi oleh setiap makhluk atau benda yang ada dibumi ini, oleh dunia yang luas itu sendiri. (hal:8)

Seakan-akan saya ini hanya seekor serangga yang tak berarti yang sedang merayap diantara beribu-ribu ekor serangga lainnya yang sama. (hal:9)

Saya genggam seluruh dunia dengan kepalan saya; dunia ini milik saya. (hal:10)

Seakan-akan saya mati disaat matanya menatap mata saya. (hal:11)

Sekalipun kami seddang tidur dia tetap memasang matanya terhadap setiap gerakan kami, mengikuti kami sampai kealam mimpi. (hal:35)

Malam disekitar kami kelam, bisu, tiada gerak suara apapun. (hal:42)

Jantung saya berdebar keras tak terkendali, dan darah mengalir ke kepala saya. (hal:49)

Dia berdarah dingin dan sikapnya kurang hati-hati. (hal:52)

Dalam kegelapan sekonyong-konyong saya menangkap dua buah mata atau merasakan adanya, bergerak kearah saya denga perlahan-lahan makin lama makin dekat kedua mata itu menjatuhkan pandangan. (hal:59)

Saya menyerahkan muka saya kemukanya dan tubuh saya ke tubuhnya, pasif tanpa perlawanan tanpa ada suatu gerakan, sepeti telah tidak bernyawa, seperti batang kayu mati atau seperti meubel tua yang sudah tidak dihiraukan, tertinggal ditempatnya berdiri, atau seperti sepasang sepatu yang terlupakan dibawah sebuah kursi. (hal:64)

Rumah itu bersinar karena bersihnya. (hal:77)

5. Personifikasi

Adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan banda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf : 140). Di sini kami mengambil beberapa contoh gaya bahasa personiikasi yang digunakan pengarang, sebagai berikut:

Seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba ketelinga kita. (hal:12)

Cahaya pernah menyentuh mata perempuan ini, sekalipun bila hari cerah berseri-seri dan matahari bersinar sangat terang. (hal: 25)

Bau jerami menggelitiki hidung saya dan sentuhan jarinya bergerak menelusuri tubuh saya. (hal:37)

Tiada sesuatupun dijalan yang dapat membuat saya merasa takut lagi dan angin yang paling dingin pun tak dapat menggigit tubuh saya. (hal:88)

6. Metonimia

Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena memiliki pertalian yang sangat erat (Keraf : 142).

Setelah selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan bergetar dengan suara dengur yang keras. (hal:27)

Kemudian pada suatu malam, tubuhnya seakan-akan lebih berat dari biasa dan nafasnya berbau lain, maka saya buka mata saya. (hal:30)

7. Sinekdoke

Gaya bahasa ini terdiri atas dua macam, yaitu sinekdoke pars pro toto (mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan) dan sinekdoke totem proparte (mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian) (Keraf : 142).

Sinekdoke pars pro toto.

Mulutnya seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang lebar pula. (Hal:26)

Tetapi saatnya tiba ketika dia merapatkan bibirnya dan menelan dengan kerasnya, tetapi percuma saja, karena dua tetes mata tetap ada dibalik matanya. (hal:42)

Dua mata, hanya dua mata yang menatap terus mata saya. (hal:47)

Sinekdoke totem proparte

Tiap menit seribu mata berlalu dihadapan mata, tetapi bagi saya tetap tidak ada. (hal:59)

8. Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Contohnya sebagai berikut:

Suaranya halus bukan karena lemah lembut, tetapi kehalusan watak yang kejam. (hal:33)

Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari pada seorang suci yang sesat. (hal:126)

IV. KESIMPULAN

Gaya bahasa menurut Slamet Muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Kata sastra novel mempunyai nilai estetik yang tinggi yang dituangkan dalam tulisan yang mengandung gaya bahasa atau style. Dalam novel “Perempuan di Titik Nol “karya Nawal el- Saadawi banyak dijumpai unsur-unsur style dalam penggunaan gaya bahasanya. Gaya bahasa yang digunakan pengarang antara lain; metafora, simile, personifikasi, hiperbola, metonimia, sinekdoke, litotes, dan paradoks. Penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah simile, sedangkan yang sedikit dipakai adalah litotes. Gaya bahasa yang dipakai dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi sangat sesuai dalam perangkaiannya.

V. DAFTAR PUSTAKA

El- Nawal, Saadawi. 2006. Perempuan di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Keraf, Gorys. 1990. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar