Minggu, 13 Februari 2011

ANALISIS PEMAJASAN DALAM NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL” KARYA NAWAL EL- SAADAWI

Disusun oleh :

Rindit setiawan 08003124


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

2010

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fungsi bahasa sangatlah luas, dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa berfungsi sebagai lambang bunyi yang dipergunakan oleh sesuatu masyarakat untuk berinteraksi. Karya sastra adalah hasil karya manusia baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai estetika yang dominan. Bahasa dan sastra memiliki hubungan erat. Melalui karya sastra pengarang berusaha menuangkan segala imajinasi yang ada melalui kata-kata. Sastra tidak dapat lepas dari bahasa.

Novel merupakan salah satu untuk mengungkapkan sesuatu cara bebas, melibatkan permasalahan secara bebas, melibatkan permasalahan secara kompleks sehimgga menjadi sebuah dunia yang penuh. Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah novel memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam perjalanan waktu.

Sastra lahir karena dorongan keinginan dasar manusia untuk mengungkapkan diri, apa yang telah dijalani dalam kehidupan dengan pengungkapan lewat bahasa. Unsur-unsur pembangun karya sastra dapat dikelompokan menjadi dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrisik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur intrinsik meliputi tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra dari luar karya sastra yang meliputi psikologi, biografi , sosial, historis, ekonomi, ilmu, serta agama.

Pengarang mempunyai kebebasan dalam mengunakan bahasa sehingga akan menghasilkan karya sastra yang menarik dan indah untuk dinikmati. Penyiasatan penggunaan bahasa di dalam karya sastra disebut gaya bahasa. Adanya bahasa kiasan ini akan menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian , menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 1987 : 62).

Salah satu untuk mendapatkan efek estetik dalam penggunaan gaya bahasa yaitu denga cara unsur retorika. Retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2006 : 1). Pengunaan retorika berkaitan dengan semua penggunaan unsur bahasa kiasan dan pemanfaatan bentuk citraan.

Unsur stilistika terdiri dari unsur leksikal, unsur gramatikal dan unsur retorika. Unsur leksikal meliputi kata benda,kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Bertujuan untuk mengetahui ketepatan pilihan kata yang dipilih oleh pengarang untuk tujuan estetik dan untuk mengungkapkan gagasan. Unsur gramatikal meliputi pembalikan kata, pemendekan dan pengulangan kata. Bertujuan untuk mengetahui hubungan kosa kata yang dipergunakan dalam penyusunan kalimat sehinngga jelas maksudnya. Unsur retorika yaitu suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasaan struktur, pencitraan dan kohesi.

Dalam hubungannya dengan stilistika, penulis mengambil novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi sebagai bahan analisis karena novel karya Nawal el- Saadawi yang berjudul “Perempuan di Titik Nol“ ini merupakan novel yang menjunjung tinggi perjuangan seorang perempuan Mesir untuk merebut kedudukan dan hak yang sama, dan lebih penting lagi untuk mendapatkan perubahan nilai dan sikap kaum Mesir terhadap perempuan, mesih belum sepenuhnya tercapai. Tujuan analisis ini untuk mengetahui kreatifitas yang digunakan pengarang. Penulis di dalam analisis ini lebih menitikberatkan pemajasan yang digunakan dan dituangkan oleh pengarang dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

B. Identifikasi Masalah

Pengkajian dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi ini terdapat pokok-pokok permasalahan antara lain:

  1. Gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.
  2. Makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

C. Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas dibatasi masalahnya yaitu GAYA bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

D. Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah di atas dapat dirumuskan yaitu apa saja gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el-Saadawi?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa yang ada dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi.

II. LANDASAN TEORI

Stilistika adalah ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa. Dalam kamus linguistik, stilistika adalah ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunaka dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan (Kridalaksana, 2001: 202).

Gaya bahasa menurut Slamet Muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Dalam karya sastra efek ini adalah efek estetik yang akan membuat karya sastra akan memiliki nilai seni. Nilai karya sastra bukan semata-mata disebabkan oleh gaya bahasa, bias juga karena gaya cerita atau penyusunan alurnya. Namun demikian gaya bahasa gaya bahasa sangat besar sumbangannya kepada pencapaian nilai seni karya sastra.

Suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis adalah unsur retorika. Macam-macam unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasan, struktur, pencintaan dan kohesi. Namun dalam makalah ini penulis hanya menganalisis pemajasan saja. Jenis bahasa kiasan dalam bahasa Indonesia ada bermacam-macam menurut Keraf (2006: 115-145). Namun hanya beberapa jenis majas yang sering dipergunakan pengarang dalam karya sastra. Diantaranya majas :

1. Simile adalah majas perbandingan yang langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain kata perbandingan seperti, bagaikan, laksana dan lain-lain (Keraf : 138).

2. Metafora adalah majas perbandingan langsung yang tidak mempergunakan kata pembanding (Keraf, 2006 : 138).

3. Personifikasi adalah majas yang menggambarkan atau memperlakukan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia (Keraf, 2006 : 140)

4. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, baik hubungan isi untuk menyatakan kulitnya dan lain-lain (Keraf, 2006 : 142)

5. Paradok adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada (Keraf, 2006 : 136)

6. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 2006 : 135)

7. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2006 : 132)

8. Sinekdok adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu untuk menyatakan keseluruhan (pars pro totot) keseluruhan untuk sebagian atau biasa diistilahkan totem proparte (Keraf, 2006 : 143)

SINOPSIS

Novel Perempuan di Titik Nol adalah hasil observasi terhadap Firdaus, tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah seorang perempuan yang akan mendapat hukuman mati. Firdaus dalam perjalanan hidupnya mengalami belbagai pengalaman dan konflik dengan lingkungannya. Firdaus sudah mengalami penganiayaan baik dari segi fisik maupun mental oleh seorang lelaki yang dikenalnya sebagai ayah. Sesungguhnya, tak cuma Firdaus yang mendapat perlakuan buruk dari sosok lelaki itu. Ibunya pun tak pernah bernasib lebih baik darinya.

Ketika ayah dan ibunya meninggal, Firdaus kemudian diasuh oleh pamannya. Meski bersikap lebih lembut daripada ayahnya, toh sang paman tak melewatkan kesempatan untuk melakukan perudungan seksual terhadapnya. Dalam masa ini, Firdaus dikirim pamannya ke sekolah menengah. Di sini, ia hampir mengenal cinta tapi tidak dari lawan jenis, melainkan dari seorang guru perempuan. Lulus dari sekolah menengah dengan nilai terbaik, Firdaus malah dinikahkan oleh seorang pria tua yang kaya raya, tetapi sangat pelit, oleh paman dan bibinya. Apa boleh buat, Firdaus harus melayani lelaki yang wajahnya penuh bisul itu walau dengan setengah hati. Namun, lama-kelamaan, Firdaus pun tak tahan dan kemudian melarikan diri.

Berikutnya, ia bertemu Bayoumi, seorang lelaki yang awalnya tampak baik. Belakangan, Bayoumi inilah yang membawa Firdaus pada sebuah profesi yang disebut pelacur. Karena kembali dijajah lelaki, Firdaus pun melarikan diri lagi. Kali ini, ia bertemu seorang perempuan cantik yang ternyata tak lebih dari seorang germo. Namun, berkat perempuan ini, Firdaus mengetahui ia memiliki harga tinggi.

Jalan hidup membawa Firdaus menjadi seorang pelacur mandiri berharga. Ia bisa membeli apa pun juga yang ia inginkan. Ia bisa berdandan secantik mungkin. Dan, yang paling penting, ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Toh, nasib baik belum juga bersahabat dengannya. Firdaus yang sempat beralih profesi sebagai pegawai kantor dan kemudian kembali ke dunia pelacuran karena patah hati harus berhadapan dengan kesombongan lelaki. Seorang germo memaksa Firdaus bekerja untuknya. Ternyata, pengalaman hidupnya yang pahit telah mengubah Firdaus menjadi perempuan yang tak lagi mau diinjak-injak kaum pria. Ia memilih untuk membunuh sang germo dan menyerahkan diri ke penjara.

III. PEMBAHASAN

Pemajasan merupakan suatu teknik penungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah, tetapi menuju pada makna tersirat. Tujuan digunakan majas atau bahasa kiasan dalam satu karya sastra dimaksudkan untuk memperoleh efek keindahan, kepuitisan dan tujuan-tujuan lainnya sesuai dengan pengertian masing-masing majas tersebut. Adapun majas atau gaya bahasa yang digunakan oleh Nawal el- Saadawi dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ antara lain:

1. Metafora

Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung (Keraf : 139). Berikut contohnya:

Apa sebabnya kau naik pitam?” tanya saya.” Kau pikir Firdaus tidak bersalah, bahwa dia tidak membunuh orang itu?” (hal: 5)

Makna naik pitam adalah marah.

Sentuhan yang sama, kemantapan dan rasa dingin telanjang yang sama pula. (hal:11)

Dingin telanjang mengandung arti suasana yang sangat dingin.

Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi dibumi yang merampas rakyat mereka yang bermulut besar berkesanggupan untuk membujuk memilih kata-kata manis dan menembakkan panah beracun. (hal:39)

Makna dari kata bermulut besar adalah banyak omong, pandai merayu.

Dengan marah dia menjawab pedas, “apa yang dapat diperbuat, minta bantuan pada langit?”. (hal:71)

Menjawab pedas mengandung arti jawaban yang menyakitkan.

Siapa saja diantara mereka itu tak ada bedanya mereka itu sama saja, semua anak anjing berkeliaran dimana-mana dengan nama macam-macam, Mahmaud, Hasanain, Fauzi, Ibrahim, Awadain, Bayoumi. (hal:75)

Semua anak anjing mengandung maksud orang yang mempunyai kelakuan seperti anjing.

2. Litotes

Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2006 : 132). Berikut contohnya:

Dibandingkan dengan dia, saya hanyalah seekor serangga kecil yang sedang merangkak di tanah diantara jutaan serangga lain. (hal:6)

Seekor serangga kecil maksudnya merendah dan tidak sebanding statusnya.

Gubuk kami dingin hawanya. (hal:24)

Gubuk kami mengandung arti rumah persinggahan.

Setelah selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan bergetar dengan suara dengur yang keras. (hal:27)

Gubuk kami mengandung arti rumah persinggahan.

3. Simile

Simile merupakan perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya ialah bahwa ia lansung mengatakan sesuatu sama dengan hal lain (Keraf: 138). Dalam hal ini bahasa yang membandingkan mengunakan kata-kata perbandingan, terlihat dalam ketipan berikut:

Saya berdiri terpaku seperti berubah menjadi batu. (hal: 7)

Maksud dari berubah menjadi batu adlah diam tanpa ada gerakan.

Mata yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh kedalam, mata itu menatap tanpa bergerak, tetap. (hal:11)

Maksudnya adalah tatapan yang sangat tajam.

Suaranya mantap, menyayat kedalam, dingin bagaikan pisau, tak ada getaran sedikitpun dalam nadanya. (hal:11)

Maksudnya adalah perkataanya sopan tapi tercapai maksud dan tujuannya.

Atau mungkin pula suara itu mengalun dari segala jurusan seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba ketelinga kita. (hal:12)

Maksudnya adalah suaranya terdengar dengan cepat kesegala arah.

Tetapi saya tetap jatuh, terpukul oleh kekuatan yang saling bertentangan, yang tetap mendorong saya ke jurusan yang berbeda-beda, bagaikan sebuah benda yang tenggelam di lautan tanpa batas, (hal: 24)

Maksudnya adalah suasana hati atau perasaan yang terluka begitu dalam.

Saya hanya cukup melihat ke dalamnya, maka yang putih menjadi lebih putih dan yang hitam semakin hitam, seolah-olah cahaya matahari menembus ke dalamnya dari arah sesuatu sumber kekuatan ghaib bukan yang ada di dunia, bukan pula yang di langit, karena tangah berwarna hitam kelam, dan menjadi gelap bagaikan malam, tanpa matahari dan tanpa bulan. (hal: 24)

Matanya tetap pudar, tak mempan akan cahayanya, bagaikan dua lampu yang telah padam. (hal: 25)

Maksunya adalah orang yang sudah tidak mempunyai semangat hidup atau sudah putus asa.

Mulutnya seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang lebar pula. (Hal:26)

Kata-kata itu bagi saya seperti lambang-lambang penuh rahasia yang membuat diri saya diliputi perasaan agak ketakutan. (hal:30)

Berulang kali kedua matanya berkaca-kaca dan sejenak kemudian redup kembali, bagaikan lidah api yang menjdai padam ditengah kegelapan malam. (hal:42)

Jangan lupa hidung yang dimilkinya. Besar dan jelek bagaikan cangkir timah. (hal:53)

Disini saya bagaikan sebutir batu yang dilemparkan orang kedalam air. (hal:59)

Saya dapat merasakan bisul yang bengkak itu dimuka dan bibir saya seperti sebuah dompet kecil atau seperti kantong tempat air, penuh dengan cairan berminyak. (hal:61)

Dia melompat kearah saya bagai seekor anjing gila. (hal:64)

Biji matanya hitam ditengah-tengah matanya sekan-akan merubah menjadi hijau, suatu warna hiajau kegelapan yang menyinarkan kekuatan bagaikan pohon-pohon ditepi sungai Nil. (hal:74)

Saya merasakan tubuh saya kini seperti bayi yang baru lahir, lembut dan halus seperti segala-galanya didalam flat itu. (hal:77)

Ketika saya membuka mata dan melihat dalam cermin saya menyadari bahwa saya telah lahir kembali dengan tubuh baru, indah dan lembut seperti kelopak bunga mawar. (hal:77)

Pada waktu malam sinar bulan menyinari saya bagaikan sutra dan putih seperti jemari lelaki yang berbaring disebelah saya. (hal:80)

4. Hiperbola

Adalah gaya bahasa yang mangandung ungkapan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf: 135). Contohnya sebagai berikut:

Sebuah perasaan yang lebih berat dan beratnya seluruh bumi, seolah-olah yang bukan berdiri malah berbaring entah dibawahnya. (hal:8)

Saya merasa ditolak, bukan saja oleh dia, bukan saja oleh satu orang diantara sekian juta yang menghuni dunia yang padat ini, tetapi oleh setiap makhluk atau benda yang ada dibumi ini, oleh dunia yang luas itu sendiri. (hal:8)

Seakan-akan saya ini hanya seekor serangga yang tak berarti yang sedang merayap diantara beribu-ribu ekor serangga lainnya yang sama. (hal:9)

Saya genggam seluruh dunia dengan kepalan saya; dunia ini milik saya. (hal:10)

Seakan-akan saya mati disaat matanya menatap mata saya. (hal:11)

Sekalipun kami seddang tidur dia tetap memasang matanya terhadap setiap gerakan kami, mengikuti kami sampai kealam mimpi. (hal:35)

Malam disekitar kami kelam, bisu, tiada gerak suara apapun. (hal:42)

Jantung saya berdebar keras tak terkendali, dan darah mengalir ke kepala saya. (hal:49)

Dia berdarah dingin dan sikapnya kurang hati-hati. (hal:52)

Dalam kegelapan sekonyong-konyong saya menangkap dua buah mata atau merasakan adanya, bergerak kearah saya denga perlahan-lahan makin lama makin dekat kedua mata itu menjatuhkan pandangan. (hal:59)

Saya menyerahkan muka saya kemukanya dan tubuh saya ke tubuhnya, pasif tanpa perlawanan tanpa ada suatu gerakan, sepeti telah tidak bernyawa, seperti batang kayu mati atau seperti meubel tua yang sudah tidak dihiraukan, tertinggal ditempatnya berdiri, atau seperti sepasang sepatu yang terlupakan dibawah sebuah kursi. (hal:64)

Rumah itu bersinar karena bersihnya. (hal:77)

5. Personifikasi

Adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan banda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf : 140). Di sini kami mengambil beberapa contoh gaya bahasa personiikasi yang digunakan pengarang, sebagai berikut:

Seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba ketelinga kita. (hal:12)

Cahaya pernah menyentuh mata perempuan ini, sekalipun bila hari cerah berseri-seri dan matahari bersinar sangat terang. (hal: 25)

Bau jerami menggelitiki hidung saya dan sentuhan jarinya bergerak menelusuri tubuh saya. (hal:37)

Tiada sesuatupun dijalan yang dapat membuat saya merasa takut lagi dan angin yang paling dingin pun tak dapat menggigit tubuh saya. (hal:88)

6. Metonimia

Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena memiliki pertalian yang sangat erat (Keraf : 142).

Setelah selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan bergetar dengan suara dengur yang keras. (hal:27)

Kemudian pada suatu malam, tubuhnya seakan-akan lebih berat dari biasa dan nafasnya berbau lain, maka saya buka mata saya. (hal:30)

7. Sinekdoke

Gaya bahasa ini terdiri atas dua macam, yaitu sinekdoke pars pro toto (mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan) dan sinekdoke totem proparte (mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian) (Keraf : 142).

Sinekdoke pars pro toto.

Mulutnya seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang lebar pula. (Hal:26)

Tetapi saatnya tiba ketika dia merapatkan bibirnya dan menelan dengan kerasnya, tetapi percuma saja, karena dua tetes mata tetap ada dibalik matanya. (hal:42)

Dua mata, hanya dua mata yang menatap terus mata saya. (hal:47)

Sinekdoke totem proparte

Tiap menit seribu mata berlalu dihadapan mata, tetapi bagi saya tetap tidak ada. (hal:59)

8. Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Contohnya sebagai berikut:

Suaranya halus bukan karena lemah lembut, tetapi kehalusan watak yang kejam. (hal:33)

Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari pada seorang suci yang sesat. (hal:126)

IV. KESIMPULAN

Gaya bahasa menurut Slamet Muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Kata sastra novel mempunyai nilai estetik yang tinggi yang dituangkan dalam tulisan yang mengandung gaya bahasa atau style. Dalam novel “Perempuan di Titik Nol “karya Nawal el- Saadawi” banyak dijumpai unsur-unsur style dalam penggunaan gaya bahasanya. Gaya bahasa yang digunakan pengarang antara lain; metafora, simile, personifikasi, hiperbola, metonimia, sinekdoke, litotes, dan paradoks. Penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah simile, sedangkan yang sedikit dipakai adalah litotes. Gaya bahasa yang dipakai dalam novel “Perempuan di Titik Nol“ karya Nawal el- Saadawi sangat sesuai dalam perangkaiannya.

V. DAFTAR PUSTAKA

El- Nawal, Saadawi. 2006. Perempuan di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Keraf, Gorys. 1990. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Tugas metode Penelitian Sastra

KAJIAN SOSIOLOGI NOVEL PEREMPUAN JOGJA KARYA ACHMAD MUNIF

Dosen Pengampu: Dra Titiek Suyatmi

Disusun Oleh:

Rindit Setiawan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARYA

2010


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sastra lahir, tumbuh dan hidup dalam masyarakat. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dan di manfaatkan oleh masyarakat (Damono, 1979). Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial.

Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk mengungkakan dirinya. Menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan spanjang zaman. Karya sastra adalah kisah kehidupan manusia yang penuh lika-liku. Pengungkapan realitas kehidupan tersebut menggunakan bahasa yang indah, sehingga dapat menyentuh emosi pembaca. Karya sastra merupakan pluapan spontan dari perasaan yang kuat dan tidak dipandang lagi sebagai refleksi tindak-tindak manusia. Selain itu merupakan cermin emosi yang dikumpulkan dalam keheningan mendalam, yang kemudian direbisi dalam penciptaan melalui pemikiran. Karya sastra yang bermutu adalah karya sstra yang mampu melukiskan kehidupan sedetail mungkin (Edraswara, 2006:33-34).

Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam permslahan sosial yang biasanny memberikan pengaruh dan tercermin didalam krya sastra. Permasalahan sosial dipengaruhi oleh adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan. Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk melukiskan msyrakat ditempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar dialaminya secara nyata. Oleh karena itu pengarang sendiri adalah makhluk sosial.

Genre sastra yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah novel. Novel merupakan salah satu karya sastra yang dihasilkan oleh seorang pengarang. Novel juga dapat meberi manfaat karena didalamnya mengandung pesan moral yang dapat diserap pembaca. Diantara genre utama karya sastra yaitu puisi, prosa dan drama, genre prosalah khususnya novel dianggap dominan dlam manampilkan unsur-unsur sosial (Ratna, 2006:335).

Hakekat novel dalam sosiologi sastra adalah, seperti halnya sosiologi, sasta berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya untuk merubah masyarakat itu. Dalam isi sesunguhnya sosiologo dan sastra berbagi masalah yang sama. Dengan demikian novel genre utama sastra dalam industri ini, dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusa sosiologi. Perbedaan yang ada antara keduannya bahwa sosiologi melakukan ilmiah yang objektif, sedangkan novel menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaanya, hal ini disampaikan oleh Damono (1979:7)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosiologi sastra untuk mengkaji novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif. Penelitian ini untuk mendeskripsikan keadaan social budaya masyarakat dalam novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif. Selain itu penulis juga ingin mengungkapkan beberapa permasalah tentang suatu kehidupan manusia dalam hubungannya dengan sesama dan lingkunganya yang diwujudkan secara rinci oleh pengarang.

B. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah bertujuan untuk mendapatkan masalah yang dibahas dalam penelitian agar tidak keluar dari topic utama. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

· Konteks social pengarang dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Fungsi social dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad munif.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

· Bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Bagaimanakah Gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Bagaimanakah Fungsi sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

D. Penelitian Tujuan

Penelitian novel Dalam Sebuah Kapal secara sosiologi ini bertujuan untuk sebagai berikut:

· Konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Mendeskripsikan Gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

· Mendeskripsikan Fungsi sosial Dalam Novel Sebuah Kapal Karya Nh.Dini

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif adalah sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan konteks social pengarang dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

2. Medeskripsikan gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

3. Mendeskripsikan fungsi social dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat memberikan manfaat. Manfaat tersebut adalah:

1. Secara Teoretis

Penelitian ini dihrapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan sastra khususnya pada analisis pendekatan sosiologi.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi penulis sendiri dan pembaca untuk menjadi pelajaran selanjutnya. Dari segi penulis mengharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan atau pegangan dalam melakukan penelitian khususnya penelitian sastra.

BAB 11

KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoretik

1. Pengertian Novel

Sebutan novel berasal dari Itali yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti “sebuah barang baru yang kecil”, dan kemudia diartikan sebagai “sebagai cerita pendekdalam bentuk prosa”. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet, yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2002:9). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,2001:788) novel adalah karangan yang panjang yang mengandung rangkaian cerita kehdupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

Novel dibangun dari unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsi, unsur-unsur itu antara lain peristiwa, tokoh, alur, latar, tema, sudut pandang dan lain sebagainya. Nsur-unsur drai novel ini diungkapkan oleh pengarang secara luas sehingga menghasilkan suatu cerita yang dapat dinikmati pembaca. Genre sastra merupakan genre sastra yang banyak digemari pembaca.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bhwa novel didefinisikan sebagai bentuk karya sastra yang terdiri dari unsur yang mengandung berbagai peristiwa dalam kehidupan manusia yang kompleks dan panjang sehingga menggambrkan keadaan masyarakat, misal keadaan sosial, budaya, adat-istiadat maupun religi.

2. Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi berasal dari kata latin “socios” yang berarti “kawan” dan kata Yunani “Logos” yang berarti “kata” atau “berbicara”. Jadi sosiologi berarti mengenai masyarakat. (Soekanto, 2003:4).

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang objek studinya berupa aktivitas social manusia. Sosiologi tidak hanya berhubungan manusia dengan lingkungan social budaya, tetapi juga dengan alam. Sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Pendekatan sosiologi sastra diartikan terlah terhadap karya sastra yang mempertimbangkan segi-segi social kemiskinan. Sosiologi tidak berbeda pengertiannya dengan sosiologi sastra, pendekatan sosiologi, atau pendekatan sosiokultural (Darmono, 1972:2).

Sosiologi sastra adalah cabang penelitian yang bersifat reflektif. Sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyrakat, study menegani lembaga-lembaga dan proses-proses sosial, kontiyuitas yang terbentuk antar masyarakat yang berbeda. Pada prinsipnya sosiologi mempelajari kehidupan nyata manusia sebagai kolektifitas. Akan tetapi didalamnya dijumpai banyak teori dan metodologi yang berbeda dan bahkan saling bertentangan mengenai kehidupan tersebut (Swingewood dalam Faruk, 2005a:1). Penelitian sosiologi sastra dapat ke arah hubungan timbal-balik antara sosiologi dan sastra. Keduannya akan saling mempengaruhi dalam hal-hal tertentu yang pada gilirannya menarik perhatian penulis.

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian sosiologi sastra adalah untuk mendapatkan gambaran yang lengkap, utuh, dan menyeluruh tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakat. Sasaran penelitian sosiologi sastra antara lain :

a. Konteks sosial pengarang

Konteks social sastrawan ada hubunganya dengan posisi social sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Oleh karena itu yang terutama diteliti adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana sastrawan mendapat mata pencaharian: apakah ia menerima bantuan pengayom atau dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap.

2. Profesionalisme dalam kepengarangan sejauh mana sastrawan mengungkap pekerjaanya sebagai sastra.

3. Masyarakat yang dituju oleh sastrawan dalam hal ini kaitan antara sastrawan dan masyarakat sangat penting sebab yang dituju itu menentukan bentuk isi karya sastra mereka.

b. Sastra Sebagai Cerminan Masyarakat

Sastra sebagai cerminan masyarakat dapat diartikan sejauh mana sastra dianggap sebagai cerminan keadaan masyarakat. Kata cermin disini meninbulkan gambaran yang kabur, oleh karenannya sering disalah tafsirkan dan disalah gunakan. Dalam hubungan ini yang harus mendapatkan perhatian adalah sebagai berikut: a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis. b) sifat lain dari yang lain seorang sastrawan sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyannya, c) genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tetentu, dan bukan sikap sosioal seluruh masyarakat, yang secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya atau diterima sebagai cerminan masyarakat.

c. Fungsi Sosial sastra

Sastra menampilkan gambaran kehidupan yang berupa suatu kenyataan social. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang – orang ( antar manusia ) dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Jabrohim ( 2003 : 8 ) mengatakan bahwa peristiwa – peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi subject matter karya sastra adalah refleksi hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Sastra juga akan menyangkut masalah yang timbul hubungan orang – orang atau masyarakat dengan yang maha tinggi sebagai perwujudannya sikap religuitas. Fungsi social sastra dalam hal ini berkaitan dengan adanya nilai religuitas dan nilai moral.

1. Nilai religuisitas

Religuisitas menurut emha ainun najib ( Jabrohim, 2003 : 15 – 16 ) adalah inti kualitas hidup manusia dan harus dimaknakan sebagai rasa rindu, rasa ingin bersatu, rasa ingin bersama dengan sesuatu yang abstrak. Religuisitas dibedakan menjadi dua yakni religuisitas agamis dan religuisitas non agamis.

Religuisitas agamis mengacu kepada sikap dan sifat religious para agamawan atau orang – orang yang memeluk agama tertentu. Orang yang beragama memang banyak yang religious dan seharusnya memang demikian. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian. Religuisitas non agamis mengacu kepada orang yang cita rasa, sikap dan tindakan sehari – hari lebih dekat dengan kesetiaan hati nuraninya walaupun secara formal dan tidak beragama.

2. Nilai moral

Nilai merupakan sifat – sifat atau hal – hal penting yang berguna bagi kemanusiaan ( KBBI, 2005 : 783 ). Pengertian moral mengacu pada ajaran tentang baik buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan sebagainya ( KBBI, 2005 : 754 ). Jadi kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian moral adalah segala sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi manusia dalam pembentukan sikap, akhlak dan budi pekerti. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai – nilai kebenaran. Hal inilah yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca.

Nilai moral merupakan aturan yang dijadikan patokan oleh manusia tentang baik buruknya yang seharusnya dan sebaliknya dilakukan oleh manusia dalam pergaulannya di masyarakat. Adapun bentuk penyampaian nilai moral menurut burhan nurgiantoro ( 2002 : 335 ) yaitu bentuk penyampaian langsung dan bentuk penyampaian tidak langsung. Bentuk penyampaian nilai moral secara langsung dapat dilakukan dengan pelukisan watak tokoh atau diwujudkan dalam aktivitas tokoh sebagai alat penyampaian nilai moral oleh pengarang melalui uraian baik berupa protagonist ataupun antagonis, sedangkan bentuk penyampaian nilai moral secara tidak langsung disampaikan melalui percakapan ( dialog ), pikiran dan sikap atau perbuatan.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah dari mana sumber data yang akan diperoleh. Subjek penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif. Cetakan ketiga tahun 2006 yang diterbitkan oleh penerbit Navila dengan tebal 356 halaman.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah gejala atau fenomena yang akan diteliti ( Siswantoro, 2005 : 46 ). Objek penelitian ini adalah menitikberatkan hubungan timbale balik antara sastrawan, sastra dan masyarakat yaitu : ( 1 ) konteks social pengarang dalam novel, ( 2 ) gambaran masyarakat yang tercermin dalam novel, ( 3 ) fungsi social dalam novel.

B. Metode Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskripsi kualitatif yang artinya data terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar-gambar bukan dalam bentuk angka-angka. Metode deskripsi ini menggambarkan data secara kualitatif yaitu kedalam penghayatan terhadap interaksi dalam konsep yang sedang dikaji secara empiris dan menggunakan kata-kata. Penggunaan kutipan dalam novel juga diiku sertaka untuk mempermudah deskripsi data (Semi, 1993:24). Lagkah-langkah yang dilakukan penelitian untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Membaca novel dengan cermat dan teliti secara berulang – ulang untuk memahami isi teks dan unsure – unsure pembangun cerita dalam novel.

b. Menafsirkan isi teks sesuai dengan pemahaman penelitian berdasarkan pendekatan dan kerangka teori yang di gunakan.

c. Melakukan pencatatan terhadap aspek – aspek yang akan di teliti.

d. Mendata hal – hal penting novel dan mewakili apa yang di teliti kemudian di catat dalam kartu data.

e. Data yang telah terkumpul di dokumentasikan untuk di pergunakan sebagai sumber informasi dalam kerja penelitian.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dlam penelitian ini adalah teknik baca dan catat. Teknik baca dan catat adalah teknik yang digunakan dengan jalan membaca teks tertulis, selanjutnya dicatat dalam kartu data yang telah disediakan. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dlam metode ini adalah sebagai berikut :

a. Membaca novel dengan cermat dan diteliti secara berulang-ulang untuk memahami isi teks dan unsure-unsur pembangunan cerita dalam novel.

b. Menafsirkan isi teks sesuai dengan pemahaman peneliti bedasrkan pendekatan dan kerangka teori yang disesuaikan.

c. Melakukan pencatatan terhadap aspek-aspek yang akan diteliti

d. Mendata hal-hal penting novel dan mewakili apa yang ditulis kemudian dicatat dalam kartu data.

e. Data yang terkumpul didokumentasikan untuk dipergunakan sebagai sumber info dalam keja penelitian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sinopsis

Ramadan adalah mahasiswa semester akhir yang juga bekerja sebagai wartawan. Ramadhan adalah lelaki yang baik, cerdas, tahu banyak tentang sastra dan juga rendah hati. Ramadhan sangat mengagumi Rumanti yang telah mempunyai suami bernama RM. Danudirjo. Tetapi, kekagumannya itu hanya sebatas kagum karena Rumanti adalah perempuan yang cantik, baik, lemah lembut dan menyayangi suami serta kedua anaknya.

Ramadhan sempat mencintai teman satu kampus bernama Tyas, tetapi karena factor kekayaan yang berbeda jauh akhirnya dia tidak mengungkapkan isi hatinya. Ramadhan hanya menganggap Tyas sbagai teman perempuannya saja. Beberapa bulan kemudian bertemu dengan perempuan bernama Raden Indri Astuti. Kecantikan indri membuat Ramadhan jatuh cinta, kali ini dia berusaha dan berjuang mendapatkan cinta Indri meskipun dia bebeda jauh dengan Ramadhan yang jauh lebih miskin daripada Indri.

Suatu saat Danu bertemu dengan mantan kekasihnya yang telah bererai dengan suaminya yang petama, karena masih cinta kepada Noma ahirnya Danu memutuskan untuk menikah lagi dengan persetujuan Rumanti. Merekapun akhirnya menikah, tetapi karena ingin menguasai harta Danu pernikahan itu berlangsung beberapa bulan saja, Norma dimasukan ke penjara setelah terbukti melalakukan percobaan bunuh diri terhadap Danu.

Perjuangan Ramadhan untuk mendapatkan cinta Indri akhirnya tercapai, tetapi kakak indri tidak merstui hubungan mereka, Danu telah menjodohkan Indri dengan rekan kerjannya bernama RM. Suwito. Tetapi lambat laun Danu mengetahui bahwa mas Wit adalah lelaki yang jahat dan suka main perempuan sehingga Danu membatalkan perjodohannya. Danu akhirnya mneyetujui Ramadhan dan Indri berpacaran

B. Pembatasan Novel Perempuan Jogja Karya Achmad Munif

1. Konteks Sosial Pengarang

Novel Perempuan Jogja merupakan Novel karangan Achmad Munif. Analisis mengenai bagaimana pengaruh cara pengarang memperoleh penghasilan yakni sebagai sastra terhadap Novel Perempuan Jogja menyangkut latar belakang sosial budaya dan pandangan hidup pengarangnya.

Manusia sebagai makhluk social tidak terkecuali pengarang, tidak dapat hidup tanpa kontak social. Achmad munif juga mempunyai sebuah hidup sendiri yang didalamnya terdapat lingkungan alam dan budaya yang sangat dihayati. Achmad Munif dilahirkan di Jawa Timur, Achmad Munif tumbuh dan dibesarkan dikeluarga yang sederhana, dari didikan orangtuannya yang diimbangi dengan kejujuran dan keuletan sehingga dia dapat melanjutkan kuliah dan bekerja sebagai seorang wartawan.

Achmad Munif selama menjadi mahasiswa aktif sebagai penulis produktif. Selain itu juga memasuki dunia jurnalistik, juga pernah menjadi penulis sekenario sinetron. Hobinnya sebagai penulis membuahkan hasil sebagai penulis yang terkemuka yang mempunyai ciri khas kedaerahan.

Karirya dibidang seni dimulai dari seni tulis. Waktu luangnya selalu dihabiskan untuk menulis baik artikel, cerpen, dan novelnya yang pernah dimuat dibeberapa media masa. Ajaran orangtuanya sejak kecil dan kehidupannya yang penuh dengan nilai-nilai dan aturan yang disiplin.

Achmad Munif dalam Novel Perempuan Jogja berbicara secara spesifik tentang kehidupan Perempuan Jogja berbicara secara spesifik tentang kehidupan Perempuan Jogja. Meskipun ada tokoh-tokoh dari luar yang dilahirkan, namun mereka malah digunakan untuk memperlihatkan pandangan masyarakat tentang kegiatan sehari-hari kehidupan Perempuan di Jogjakarta. Perempuan yang digambarkan adalah perempuan ynag sopan santun, tunduk pada peraturan suami, menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, baik yang mengerti tentang tata karma. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada tokoh Rukmanti yang penulis gambarkan pada Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

2. Gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja Karya Achmad Munif.

Perempuan jogja dikenal sebagai perempuan yang lemah lembut, menghormati orang yang lebih tua, baik dan mengerti tata karma. Patuh terhadap peraturan yang ada baik secara khusus maupun umum. Peraturan agama yang mengatur tentang poligami itu dapat dirasakan oleh Rumanti yang suaminya menikah lagi dengan mantan kekasihnya, meskipun hal tersebut sangat memberatkan tetapi Rumanti harus menjadi perempuan yang patuh pada keputusan suami.

Gambaran masyarakat pada Novel Perempuan Jogja merupakan hal pengatan penulis atas segala sesuatu yang terjadi disekelilingnya yang berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dilingkungan Jogjakarta. Novel Perempuan Jogja menceritakan tentang Perempuan Jogja yang sebenarnya yang menjadi tokoh utamanya yaitu Rumanti. Rumanti adalah perempuan yang dijodohkan dengan lelaki yang sangat kaya. Rumanti yang dijodohkan dengan Danu anak seorang kolongmerat. Gambaran pada novel Perempuan Jogja juga masih memegang adat istiadat yang ada di Jogjakarta. Kutipan-kutipan yang mendukung dapat kita lihat dibawah ini :

v Menggambarkan masyarakat yang masih megenal perjodohan

“........Raden Mas Sudarsono tidak punya pilihan lain kecuali cepat-cepat menikahkan puterannya. Mereka memilih Rumanti karena dianggap memiliki potensi untuk mengabdi. Apalagi Rum sendiri memang cantik, bagai bunga mekar dirumput-rumput yang hijau. Bagi keluarga RM Sudarsono, lelaki seperti Danu membutuhkan seorang perempuan cantik, tapi penurut.” (Hlm. 10)

“…… saya tidak pernah menjodohkan Indri dengan Suwito. Sudah lama kita sadari, kini bukan jamannya menjodohkan anak. Semua itu keinginan Danu.” (Hlm.20)

Kutipan diatas menggambarkan tentang adat perjodohan yang masih melekat dimasyarakat Jogjakarta karena masalah kecantikan seorang gadis yang penurut terhadap laki-laki selain itu juga masalah kekayaan.

v Menggambarkan masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat.

“…….baginya budaya Timur tentu dalam hal ini budaya Nusantara tidak boleh dibiarkan mandeg apalagi tari Jawa.” (Hal.18)

Kutipan diatas masih menjunjung adat istiadat masyarakat Jogja yaitu menjaga budaya Nusantara terutama Tarian Jawa yang jangan sampai dimusnahkan.

· “ Rukmanti mengenakan pakaian tradisional Jawa dengan kain dan kebaya.” (Hal.216)

Kutipan diatas masih menjunjung adat istiadat masyarakat jogja yaitu mengenakan pakaian khas adat jawa yang masih menjadi tradisi.

· “……..dan Ibunya selalu mendampingi Romo dambil membatik.” (Hlm.170)

Kutipan diatas menunjukan bahwa tokoh Ibu masih menekuni membatik, hal tersebut dilakukan seperti perempuan atau ibu-ibu di Yogyakarta. Adat yang dilakukan itu mencerminkan orang Jawa yang ada di Yogyakarta.

· “ mereka diapit RM Sudarsono dan RA Niken yang berpakaian resmi ala Jawa dan keluarga Norma.” (Hlm.217)

Kutipan diatas menjelaskan tentang acara keluarga yang digambarkan pada acara pernikahan yang kedua RM Danudirjo masih menggunakan pakaian adat yaitu pakaian resmi Jawa

v Menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan kemiskinan

· “ posisi kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Dan sekali lagi mas Danu telah mengangkat Mbak.” (Hlm.26)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa dengan kekayaan yang ada seseorang dapat membeli apa saja. Dalam novel tersebut dijelaskan bahwa kekuasaan RM Danu terhadap Rumanti yang telah menjadi suaminya.

· “ Kamu masih ingat, bapakmu ini dulu hanya seorang batur. Pembantunya Raden Mas Sudarsono, Ramanya suamimu.”

Kutipan diatas menjelaskan bahwa kekayaan membuat seseorang menghormati kaum yang lebih tinggi atau lebih kaya.

3. Fungsi Sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

a. Nilai Religiusitas.

· Religiusitas Agamis

- Islam mengajarkan untuk tetap bersyukur terhadap apa yang diberikan oleh Alloh SWT.

“ Mba mensyukuri apa yang sudah Mba terima dari Gusti Alloh melalui mas Danu.” (Hlm.27)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa rasa bersyukur karena mempunyai suami yang baik meskipun suaminya akan menikah dengan mantan kekasihnya. Dengan bersyukur merasa mendapatkan kedamaian dan akan mendapat kebahagiaan semua itu.

- Islam mengajarkan untuk sholat.

“ Ramadhan bangkit dari kursi menuju kekamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia ingat belum sholat isya.” (Hlm.185)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa islam mengajarkan tentang sholat. Sholat lima waktuu harus dikerjakan dan jangan ditinggalkan. Dengan sholat kita akan bias berfikir positif dan selalu berusaha melakukan hal yang baik dan sesuai dengan perintah agama

- Islam mengajarkan tentang tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah.

“ popi sering membagi-bagikan permen atau makanan apa saja kepada anak-anak kandung kala membantu membelikan obat kalau ada anggota komunitas yang sakit.” (Hlm 56)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa orang member lebih baik dari pada orang menerima. Seperti yang dilakukan Popi walaupun member permen atau makanan tetapi itu adalah perbuatan yang diajarkan agama.

· Religuisitas Non Agamis

- Islam tidak mengajarkan bunuh diri

“…. Kata Mama, Papa main gila lagi dengan perempuan lain. Mama mengancam akan bunuh diri.” (Hlm48)

Kutipan diatas adalah perbuatan yang sangat dbeci oleh Allah SWT. Bubuh diri adlah perbuata yang tidak terpuju dan sangat merugikan bagi orang yang melakukan.

- Melakukan perbuatan yang dilarang agama seprti bersina

“ Mereka menuju sebuah hotel terbaik di parangtritis. Setelah beristirahat dikamar mereka jalan-jalan, ia tidak kecewa telah diberi kebutuhan biologis oleh Daniel.” (Hlm.273)

Kutipan diatas sungguh perbuatan yang tidak baik karena berzina adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh agama islam, dan kita harus menjauhinya.

b. Nilai Moral.

· Baik.

- RM Sudarsono (Berjiwa Sosial).

“ Ayahnya berjiwa sosial dan tidak pernah menunjukan apalagi menonjolkan bahwa dirinya masih berdarah biru.” (Hlm.21)

Kutipan diatas menunjukan bahwa RM Sudarsono mempunyai moral yang baik yaitu berjiwa sosial, ia tidak pernah sombong dan membangga-banggakan bahwa dirinya masih berdarah biru.

- RM Sudarsono (Baik).

“ salah satu kebaikan dari ayahnya karena sangat menonjol adalah memberikan buruh-buruh batiknnya mendirikan rumah-rumah dihalaman belakang dan menganggap mereka sebagai kerabat.” (Hlm.22)

Kutipan diatas menunjukan bahwa nilai moral tercermin dari RM Sudarsono yang melakukan tindakan kebaikan kepada buruh-buruh pabriknya yang tidak mempunyai lahan untuk tempat tinggal dengan cara membiarkan mendirikan rumah di halaman belakang.

- Rumanti (Menjaga Kesetiaan).

“ Maka Mbak tidak bisa berbuat lain kecuali menjaga kesetiaan sampai kapanpun.” (Hlm.27)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa Rumanti adalah sosok perempuan Jogja yang menjaga kesetiaan sebagai seorang isteri meskipun suaminya akan menikah lagi. Kesetiaan itu didasari karena balas budi dengan apa yang telah diberikan mertua dan keluarga suaminya.

- Rumanti (Perempun yang Kuat).

“ Kamu harus menujukan kepada semua orang bahwa kamu bukan perempuan biasa. Kamu perempuan Jawa yang kuat.” (Hlm.217)

Kutipan diatas menunjukan bahwa Rumanti mampu menjadi perempuan Jawa yang kuat. Perempuan yang biasa menerima keputusan suami, karena itu perempuan Jawa yang sesungguhnya.

- Popi (Insyaf).

“ Tidak mau, Om! Cari saja yang lain. Popi sekarang sudah insyaf.” (Hlm.339)

- Perampok (Kasihan)

“ Kita lempar saja di jalanan atau ke jurang. Kasihan juga ini orang.” (Hlm.350)

Kutipan diatas menunjukan bahwa sebagai seorang perampok juga masih mempunyai moral yang baik yaitu tidak jadi melempar Ramadan ke jurang atau ke jalanan.

· Buruk

- RA Indri (Pemarah).

“ Di tengah keasyikan menyapukan kuas dikanvas disampig istrinya, Indri Astuti masuk kedalam sanggar dan berbicara nerocos dengan kata-kata bernada marah.”

Kutipan diatas menunjukan bahwa sikap moral Indri yang tidak baik karena selain marah-marah juga menunjukan sikap moral yang tidak menghormati orangtuannya.

- RM Danudirjo (Tidak Setia).

“ ia lupa dengan kesetiaan dan pengabdian Rumanti yang telah menyembuhkan luka-luka dihatinya.” (Hlm.34)

Kutipan diatas menunjukan bahwa ikap RM Danudirjo yang tidak baik karena karena melupakan kesetiaan istrinya hanya karena mantan kekasihnya.

- RM Suwito (Suka mempermainkan cewek)

“ tangan Suwito memijat-mijat lutut Nita. Gadis itu sediki menggelinjing……… Padahal tidak hanya Nita yang pernah diajak Suwito ke Villa Kaliurang, tetapi juga Nora, Indah, Narmi, dan entah siapa lagi.” (Hlm.114)

Kutipan diatas menunjukan sikap moral Suwito yang tidak baik sering gonta-ganti perempuan yang diinginkannya, sikap moral yang dilakukannya itu juga dibertentangkan dengan moral agama.

- RM Danudirjo (Egois).

“ Memang wajar kalau Danu egois, sebagai sulung laki-laki yang dibesarkan dengan kasih saying penuh.” (Hlm.215)

Kutipan diatas menunjukan sikap danu yang egois karena dalam membesarkannya dulu Danu sering dimanja penuh kasih saying, sikap egois itu akan merugikan orang lain.

- Norma (Melakukan Precobaan Pembunuhan kepada Danu).

“ Ia tahu Norma hanya pura-pura pinsan. Nalurinya sebagai polisi menyakini bahwa Danu menjadi korban percobaan penbunuhan.”

Kutipan diatas menunjukan sikap moral norma yang tidak baik karena demi mendapatkan harta kekayaan Danu, Norma melakukan percobaan pembunuhan terhadap suaminya sendiri.

- Perampok (Melakukan Pengroyokan).

“ Ramadhan terkejut ketika sebuah mobil boxes berhenti persis didepannya. Tiga orang keluar dari mobil dan langung menyeret Ramadhan begitu saja.” (Hlm.348)

Kutipan diatas menunjukan bahwa sikap moral para perampok ynag jahat yaitu melakkan pengroyokan terhadap Ramadhan.

BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Kontek social pengarang Novel Perempuan Jogja merupakan Novel karangan Achmad Munif. Achmad Munif di lahirkan di Jawa Timur Achmad Munif tumbuh dan dibesarkan dikeluarga yang sederhana, dari didikan orang tuannya yang diimbangi dengan kujujuran dan keuletannya sehingga dia dapat melanjutka kuliah dan bekerja sebagai seorang wartawan. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada tokoh Rumanti yang penulis gambarkan pada Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

2. Gambaran masyarakat yang tercermin dalam novel Perempuan Jogja karya Achmad munif. Gambaran masyarakat pada Novel Perempuan Jogja merupakan hasil pengatan penulis atas segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat dilingkungan Yogyakarya. Dalam Novel Perempuan Jogja terdapat terdapat kutipan-kutipan yang menggambarkan masyarakat yang masih mengenal perjodohan, masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat, menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan kemiskinan.

3. Fungsi social dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif didalamnya memuat tentang nilai religious (Religuisitas agamis, religuisitas non agamis) nilai moral baik dan buruk.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

· Damono, Sapardji djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

· Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Widya Tama.

· Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

· Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

· Faruk . 2005. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

· Jabrohim. 2003. Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib. Sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Yogykarta : Pustaka Pelajar dengan Pusat Aktivitas dan Studi Sastra UAD.

· Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press.

· Semi, M. Atar.1993. Kritik Sastra. Bandung : Angkasa.

· Ratna, Nyoman, Kutha. 2006. Teori Metode dan Teknik Penulisan Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

· Munif, Achmad. 2006. Perempuan Jogja. Yogyakarta. Navila.